Rudi Mantofani, Salah Satu Pelukis Mahal Indonesia

Rudi Mantofani
Disebut Mr last Minute oleh teman-temannya. Di Kelompok Jendela, Rudi Mantofani kalau ngumpulin karya memang selalu paling akhir. Tapi itu bukan lantaran ia lelet atau menyepelekan. Itu karena menit-menit akhir pun selalu ia gunakan untuk memastikan karyanya telah sempurna.

Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat, 21 April 1973 ini dikenal sebagai pematung dan pelukis. Karya-karyanya banyak didasari eksplorasi kemungkinan pencapaian-pencapaian visual. Pengalamannya terhadap material, serta kesadarannya pada proses kerjalah yang menyebabkan Rudi peka terhadap berbagai kualitas visual. Ia banyak menemukan aspek menarik dalam proses kerja yang menjadi modal baginya dalam tahap visualisasi.

Rudi juga dikenal sebagai seniman yang kreatif dan tuntas. Dalam berkarya, ia tidak pernah mengulang-ulang dan terus berusaha untuk menemukan hal-hal baru hingga tidak monoton. Dan kebaruan itulah yang membuat karyanya senantiasa ditunggu-tunggu kehadirannya.

Nama Rudi sendiri mulai dikenal di kalangan kolektor seni rupa Indonesia lewat Rumah-Rumah Cokelat (2005). Dan setelah 9 karyanya secara bersamaan terlelang di Christie’s Hongkong, popularitasnya pun meledak cepat. Namanya terus menanjak dalam dunia seni rupa kontemporer Indonesia.

Pendekatan Rudi dalam karyanya sejak awal memang sudah mencuri perhatian. Di atas kanvas, ia membalik-balikkan logika berpikir. Karya Pohon Apel misalnya. Ia menghantarkan hamparan padang rumput yang bergelombang dengan apel yang dipasang terbalik, dengan tangkai yang berada di bawah. Sederhana, memikat, tapi meninggalkan kesan yang dalam. Begitu juga dengan goresan warna-warnanya yang cerah membuat banyak orang menyukainya.

Kesuksesan Rudi tentu adalah buah dari kesabarannya. Ia pernah menderita sakit punggung parah pada 2005-2006. tentu itu mengganggu konsetrasi dalam berkarya. Kalau ide datang, ia merasakan pusing kepayang. Dan ini menjadi sangat menyakitkan ketika ia tidak bisa menuangkannya. Walhasil, selama masa tersebut, ia hanya sanggup menghasilkan satu karya.

Padahal permintaan karyanya sedang naik saat itu. Tapi memang ia bukanlah tipe seniman yang lantas mengejar setoran saat harganya sedang merangkak naik. Karya terbaik tetap menjadi prioritas. Bukan soal pelit berkarya. Tapi memang ia sangat perfeksionis. Sebelum puas, ia tak bakal mengeluarkan karyanya.

Setiap karya Rudi adalah hasil pemikiran terbaru tentang kehidupan yang dilihat dan dialaminya setiap hari. Karena itu wajar saja bila ia senantiasa menyertakan benda-benda yang sangat dekat dengan keseharian. Benda-benda yang tampak remeh itu lantas diberikan ruh oleh Rudi sehingga menjadi satu hal yang sama sekali baru. Benda-benda itu seakan menjadi hidup, bisa bicara, sehingga terjadi komunikasi di antara benda-benda itu. Dan Alam benda sendiri menjadi salah satu kekhasan lukisan Rudi.

Secara visualisasi, karya-karya Rudi terasa sangat hemat dan minimal. Ia membawa pemirsa pada persoalan paling mendasar pada karya seni rupa: sensasi visual. Karyanya cenderung fokus pada sebuah bentuk atau objek karena sensasi visual akan muncul justru jika sebuah karya tidak terlalu "cerewet". Namun itu bukan berarti karyanya tidak memiliki potensi teks atau makna. Persepsi pemirsa yang muncul karena bentuk visuallah yang mungkin membangkitkan persoalan makna tersebut.

Pengertian makna dalam karya Rudi sendiri tidaklah bisa dilihat sebagai sesuatu yang terbaca dan kemudian dipahami. Dimensi makna tersebut tidaklah literal, kehadirannya melibatkan hal non fisik lainnya: perasaan. Karya-karya Rudi seperti mengajak pemirsa kembali pada sesuatu yang selama ini jarang diperhatikan lagi dalam seni rupa, sensitifitas itu sendiri. Beberapa karyanya bahkan seperti sedang "menguji" kepekaan pelihat, dengan menampilkan seminimal mungkin aspek visual.

Tentang hidup sebagai seniman, bagi Rudi yang terpenting adalah mengerti alasan untuk melakukan sesuatu. Dan itu berarti harus menguasai diri sendiri, belajar memahami diri-sendiri untuk mencipta karya. Refleksi ini yang membuat Rudi mampu melahirkan dan memaknai karya-karyanya.

Proses mengerjakan karya sendiri merupakan hal paling menyenangkan bagi Rudi. Selain belajar memahami sifat-sifat benda, dalam berkarya tiga dimensi, Rudi harus mempresentasikan rancangan dan konsepnya di depan pihak-pihak yang sekiranya lebih mampu. Menurutnya, seni terletak bagaimana ia berhasil melakukan kolaborasi dengan orang yang lebih kompeten dalam hal teknis.

Kolaborasi untuk karya tiga dimensi dilakukan dengan beberapa pekerja khusus, tergantung seri karya yang sedang dikerjakan, misalnya pekerja khusus gitar untuk salah satu seri alat musik dan pekerja mebel untuk seri mebel. Membuat orang bersedia menerima ide dan membuatkan sesuai apa yang dipikirkannya bagi Rudi merupakan salah satu seni tersendiri.

Objek menurut Rudi, bukan semata-mata benda yang ada di luar kita. Objek adalah hasil pemikiran. Ini membuktikan bahwa Rudi memiliki paradigma lain dalam melukis alam benda. Bukan meniru objek yang ada, tapi mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran. Imajinasi adalah kunci, alasannya fantasinya lebih ada ketimbang bentuk riil.

Mengenai perjalanan Rudi menjadi Seniman, itu bermula saat ia lulus dari SMSR, Padang tahun 1993 dan melanjutkan studi di Jurusan Patung, Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Selanjutnya ia ikut mendirikan kelompok Jendela dan berkesenian di sana.

Bakat seni Rudi sebenarnya sudah terlihat sejak ia duduk di semester pertama kuliah. Kolektor senior, Oie Hong Djien, meyakini hal itu ketika melihat karyanya di sebuah pameran. Ia sempat ditertawakan teman-temannya waktu beli lukisan Rudi berupa latar putih dengan paku-paku yang berkarat. Tapi ia melihat lukisan Rudi bagus, artistik, memiliki rasa estetika tinggi yang jelas bukan standar estetika normal di masa awal 90-an. Dan keyakinan Hong Djin pun benar. (yunisa)

Sumber:
Stanislaus Yangni, Rudi Mantofani: Seni, Fantasi, dan Hidup Sebagai Seniman, dalam Majalah Seni Rupa Visual Arts, Vol. 5, No. 25, Juni-Juli 2008.
http://rustikaherlambang.wordpress.com.
http://www.midoriart.com.

0 Response to "Rudi Mantofani, Salah Satu Pelukis Mahal Indonesia"

Post a Comment