Rain Rosidi, Menjadi Kurator karena Kutukan

Ia dikutuk teman-temannya. Tapi bukan seperti kutukan Penyihir Jahat dalam dongeng, yang bisa merubah wujud manusia menjadi batu ataupun katak.  Gara-gara dikutuk teman-temannya di Komunitas Gelaran, Pria kelahiran Magelang, 26 Juni 1973 ini berhasil menjelma menjadi sosok kurator seni.


Rain Rosidi
Di komunitas Gelaran, Rain Rosidi memang satu-satunya orang yang bertindak sebagai pewacana. Rain lebih tertarik menulis, meneliti, dan mempelajari sejarah senirupa, saat teman-temannya asyik membuat karya seni. Jadi sangat pas jika Rain didaulat menjadi kurator, yang mana saat itu Gelaran sendiri benar-benar independent dalam setiap melakukan pameran.

Tentang kurator sendiri, di Yogyakarta, bahkan Indonesia, pada waktu itu namanya masih jarang terdegar. Jika ada kurator, awalnya hanya sampai ke pengantar pameran dan tidak sampai ke prosedur mengurasi yang menyeluruh. Rain pun, awal bertindak sebagai kurator juga sebatas menulis, yaitu pada pameran bertiga, “Pande, Dipo, Didik” (1999). Ia baru mulai menguratori secara total pada 2000-an.

Bicara tentang seni, menurut Rain, seni itu di satu sisi ada kesepakatan di dalam masyarakatnya. Di sisi lain, seni itu sangat pribadi pada masing-masing seniman, masing-masing kelompok. Jadi, meskipun ada yang berusaha membuat kesepakatan dalam seni, dalam seni itu tetap selalu ada ekspresi yang sangat pribadi. Dan meskipun pengertian seni bermacam-macam, orang tetap akan bisa menikmati keunikan masing-masing pribadi.

Selanjutnya, dunia seni sekarang ini sudah cukup luas. Sulit untuk mengklasifikaskan lagi bidang-bidang seni secara tepat. Seni rendah dan seni tinggi pun batasnya mulai pudar. Tapi meskipun begitu, bidang-bidang khusus selalu dapat tempat. Jadi pematung, pelukis, pegrafis dan kriyawan tetap ada dan cenderung lebih kuat.

Dunia seni Yogyakarta yang membesarkan namanya, perkembangannya cukup positif. Senirupa Yogyakarta sudah bisa  bernegosiasi secara langsung  dengan senirupa dunia, setelah sebelumnya hanya berkutat di lapangan lokal.

Mengenai perkenalan dengan seni, karena bapaknya seorang pematung tradisional di muntilan, tentu ia sudah mengenal seni sejak kecil. Di bangku SD hingga SMA, ia juga senang menggambar komik. Karena kesenangannya dan telah dicap sebagai anak seniman, jika ada tugas membuat dekorasi di kampung atau lomba menggambar di sekolahnya, pasti ia diajukan. Dan anggapan itu terus berlanjut hingga ia masuk di Jurusan Seni Patung, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Saat di ISI, ia lebih tau tentang senirupa mulai dari sejarahnya hingga persoalan seni yang lebih luas. Dan ia pun lebih senang dengan wacana. Ia melihat, di zamannya, di seni patung itu, para senior lebih tertarik membuat patung proyek karena saat itu masa Orde Baru banyak proyek-proyek seperti membuat monumen. Ia merasa itu tidak cukup untuk akademisi.

Kalau hanya sekedar membuat patung dan untuk mendapat uang, di kampungnya pun itu sudah biasa. Dan kalau mengikuti itu, ia merasa tidak dapat apa-apa. Ia pun berfikir seharusnya ada sesuatu yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Karena itu ia lebih tertarik ke membaca wacana dan menulis.

Ketertarikan Rain dalam dunia wacana terus terbawa hingga ia lulus dan saat ikut mendirikan Gelaran. Ia pun belajar mengkurasi dengan lebih intens. Ia mengikuti workshop-workshop senirupa khususnya tentang kuratorial. Ia juga pernah residensi untuk kuratorial di Australia. Dan mulai tahun 2001, saat beberapa galeri komersial Jakarta membutuhkan kurator, ia melibatkan diri dan berkarir sebagai kurator profesional.

Bagi Rain, seorang kurator harus punya ideologi, harus ada sesuatu yang diperjuangkan. Ia sendiri punya tiga wilayah: Pertama, ia ingin membangun komunitasnya sendiri yaitu Gelaran. Kedua, Ia tertarik dengan gerakan-gerakan yang sifatnya antara pinggiran dan mainstream. Jadi bentuk-bentuk karya seni yang sifatnya masih diabaikan dalam karya seni rupa tinggi, ingin ia campur aduk dan diangkat dalam senirupa. Dalam hal ini ia dekat dengan orang-orang di underground musik dan mural.

Ketiga, seperti kurator lain, ia tertarik dengan masalah yang lebih besar, misalnya identitas dan kebudayaan. Dalam hal ini, ia pernah membuat pameran “Jawa Baru”, yang berhubungan dengan pertanyaan tentang orang-orang Jawa di masa kini yang tidak kelihatan Jawanya, tapi itu sebenarnya ekspresi Jawa yang baru.

Tentang pengalamannya yang paling berkesan dalam mengkurasi adalah saat membuat Pameran Utopia Negativa (2008) di Langgeng Gallery. Dalam pameran ini ia bisa memilih sendiri senimannya, dan bisa diterima oleh galeri komersial yang biasanya membuat tuntutan-tuntutan agar bisa diterima oleh pasar. Dan secara pasar ternyata pameran ini berhasil, meskipun karya-karya yang diangkat sebenarnya bukan karya-karya yang umum diterima di pasar.

Dalam mengurasi, Rain mengaku kadang melakukan yang tidak ideal meskipun ia selalu berusaha mencapai itu. Dan mengkurasi bukan hanya menulis, bahkan menulis bukan keharusan dalam kuratorial. Meskipun itu dokumentasi penting untuk dibaca orang lain setelah kerja kurasi selesai, tapi yang lebih penting lagi adalah peran secara teknis. Yaitu menjadi pendamping seniman dalam mempersiapkan pameran.

Untuk menjadi kurator handal, menurut Rain perlu juga mempelajari ilmu-ilmu lain selain senirupa. Karena kalau hanya dengan ilmu senirupa akan terasasa monoton. Dan sekarang persaingan dalam senirupa juga tidak hanya lokal, tapi internasional. Jadi diharapkan kurator lokal bisa meningkatkan kualitasnya sehingga bisa berbicara di kancah luar. (yunisa)

Sumber:
Wawancara Rain Rosidi by yunisa, tanggal 03 Oktober 2009, Pukul: 16.00 WIB

0 Response to "Rain Rosidi, Menjadi Kurator karena Kutukan"

Post a Comment