I Gusti Ngurah Udiantara, si Pelukis Monster

Sosoknya menyerupai monster. Memiliki bentuk kepala lonjong dengan daun telinga menjorok dan lidah panjang yang menjulur seperti ular.  Dan bagian-bagian tubuhnya tampak tidak proporsional. Sosok itu terdapat dalam lukisan seorang pria bernama I Gusti Ngurah Udiantara.

I Gusti Ngurah Udiantara
Pelukis kontemporer kelahiran Tampaksiring, Gianyar, Bali pada 31 Mei 1976 ini memang suka menggambar makhluk-makhluk ajaib. Ia mendeformasikan bentuk-bentuk manusia menjadi makhluk aneh yang mengerikan, tapi kadang juga menggelikan.

Sosok-sosok dalam lukisannya seakan berkembang mengikuti evolusi yang menyimpang yang digariskan oleh alam. Sosok itu seakan selalu bernafsu menyemburkan sesuatu bentuk baru yang ganjil untuk dapat tampil ke permukaan. Atau sebaliknya surut menjadi makhluk yang ingin sekali lagi mengenali kembali tahap-tahap perkembangan tubuhnya jauh di belakang agar dapat kita perhatikan. Seakan seperti kata dasar, bentuk dalam karyanya penuh dengan imbuhan sewenang-wenang atau sebaliknya, pemenggalan di sana-sini menjadi sejumlah atau rangkaian satuan-satuan yang lebih dasar.

Bentuk tambahan atau pengurangan itu memberikan penekanan mood, tegangan dan suasana perasaan, respon terhadap suatu kondisi tertentu. Betapapun terpiuh, sosok mengandung substansi dasar: sesuatu yang meskipun disharmoni tetapi tetap berupaya menjadi utuh. Yakni, terintegrasi dalam kekurangan atau tetap padu dalam organisasi yang kelewat berlebihan.

Unsur lain pun masuk ke dalam tubuh sosok-sosok yang dilukiskan oleh Udiantara, yaitu sejenis cairan, tumbuhan, bahkan terkadang lanskap. Tubuh seakan menjadi layar, menampilkan adegan yang mengesankan yang muncul dari sebelah dalam atau luar.

Evolusi pada sosok-sosok itu dipenuhi dengan muatan dan aksesori tak karuan, seperti mata yang bertambah atau berderet memanjang, rongga mulut yang sulit mengatup kembali, atau telinga seperti kelopak bunga yang ingin mekar perlahan-lahan. Penuh dengan bentuk absurd, bentuk hayati yang menempel pada tubuh, tetapi yang seakan-akan sebagai organisme parasit dengan mekanisme di luar control tubuh: organisme dalam organisme. Anatomi yang kita kenal penuh dengan keseimbangan lenyap, untuk memunculkan desakan liris garis atau warna.

Dari lukisan-lukisan Udiantara, seakan kita melihat perjalanan dari bentuk hayati (biomorfis) ke konstatasi-konstatasi sosial. Dari kehidupan dalam ketegangan “bio” menjadi relasi sosial dalam tegangan “biro”, dari organ-isme kreatif menjadi organ-isasi regulatif atau manipulatif. Dari kon-figurasi menjadi dis-figurasi. Dari kontemplasi swa-rupa dalam atmosfir “bio” menjadi kisah-kisah anomali atau alinasi social “biro”. Dan dari nomos atau aturan menjadi khaos atau kekacauan, juga sebaliknya.

Dalam lukisannya Para Pemakai Dasi (2001), sosok-sosok yang dilukiskan mewakili gambaran tentang para kapitalis yang turba. Sejumlah lelaki mengenakan jas dan dasi lebar berdiri kaku seperti totem-totem menjinjing kopor berwarna gelap. Kepala gundul, muka licin berminyak, perut buncit, telinga super sensitif. Salah satu di antaranya bermertamorfosis menjadi seekor anjing belang yang cantik berkepala manusia. Rumah-rumah seperti vila yang norak berpintu lengkung dengan trap-trap tangga yang telanjang, menyelip di atas bukit gundul. Sepasang petani kurus berwarna legam dan bercaping menggiring domba-domba. Di antara irisan lembah dan gugus pohon-pohon sunyi, meledak tawa mekanistik dari sosok bermulut lebar yang menghamburkan lidah raksasa.

Sosok selalu dibayangkan memiliki banyak karakter atau pribadi yang tersembunyi di balik topeng wajah yang menutupi. Karakter ini ditampilkan sekaligus sehingga tampak kepribadian ganda. Misalnya pada lukisan Sang Perokok (2001) dan Dualisme (2001). Mereka bermain dalam kesulitan dan jebakan ini: seakan kehilangan platform hidup karena bermain pada tataran peran yang ditentukan oleh struktur sosial atau kehadiran orang lain.

Semua susunan dan rekayasa biomorfik atau bentuk hayati dalam karya Udiantara, akhirnya bermuara pada keinginan untuk melukiskan cerita tentang kondisi sosial yang carut marut, pengamatan yang lebih kurang sistematis tentang keadaan sosial masyarakat. Seraya menegaskan diri sebagai bentuk-bentuk swa-rupa yang figurasinya tak mudah diidentifikasikan, bentuk artistik itu menunjukkan kaitan dengan tema sosial.

Tentang acuan rupa, dalam lukisan-lukisan Udiantara, di sana-sini mengingatkan pada skematisasi bentuk lukisan-lukisan modernis Joan Miro. Di sana juga ditemui luapan emosi dalam carut-marut fisiognomi atau wanda wayang, serta unsur humor yang mengarah ke Heri Dono. Dan tentang acuan sendiri, menurut penuturan Udiantara, itu memang dibutuhkan.

I Gusti Ngurah Udiantara yang merupakan lulusan seni lukis, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini selain produktif berkarya, juga banyak melakukan pameran. Adapun pameran yang pernah dilakukan antara lain: “from Contemplation to Comedy”, Nadi Gallery, Jakarta (2002), “Benang-benang 96”, Art Center, Bali (1998), “Tri Taksu”, Ina Gallery, Jakarta (2000), “Master”, Benteng Vredeburg, Yogyakarta (2001).

Akhirnya, lukisan-lukisan Udiantara telah menunjukkan kekuatannya dalam mengolah tema-tema surealistik dalam gaya lukis yang sepintas terkesan abstrak dan dekoratif. Dan bentuk-bentuk aneh pada lukisannya telah menimbulkan kesan bahwa pelukisnya tengah mencari-cari bentuk yang cocok untuk melayani pandangan pribadinya tentang realitas sosial. (yunisa)

Sumber:
Katalog Pameran I Gusti Ngurah Udiantara, From Contemplation to Comedy, Nadi Gallery, Jakarta, April 2002.

0 Response to "I Gusti Ngurah Udiantara, si Pelukis Monster"

Post a Comment