Cerita Anak: Ternyata Seorang Teroris


Hari Sabtu, Sidik pulang sekolahnya agak awal. Sampai di rumah ia langsung menyalakan televisi. Ia menonton tayangan berita tentang seorang teroris yang menjadi buronan polisi. Teroris tersebut diperkirakan sekarang berada di kota tempat Sidik tinggal yaitu Yogyakarta.
Sebagai siswa kelas lima SD, tentu Sidik sudah tahu apa itu teroris. Di sekolah, gurunya telah menjelaskan bahwa teroris adalah orang jahat yang suka melakukan kekacauan dengan unsur kekerasan yang membuat orang lain cemas atau ketakutan. Sebagai contoh yaitu meledakkan bom di tempat-tempat umum.
Dalam berita disebutkan bahwa teroris itu bernama Udin M Top. Kemudian diperlihatkan fotonya yaitu seorang lelaki berkepala botak, berwajah bulat telur, dan bermata sipit. Bagi yang memberikan informasi tentang keberadaan buronan itu, maka akan diberi hadiah berupa uang yang jumlahnya cukup banyak.
Melihat wajah teroris itu, Sidik jadi ingat pada tetangga barunya yang misterius. Dia seorang lelaki berambut gondrong dan berkacamata hitam. Sudah tiga hari dia tinggal di rumah kontrakan yang berdekatan dengan tempat tinggal Sidik, tapi dia belum juga memperkenalkan diri.
Sidik jadi curiga terhadap lelaki misterius itu. Kemudian ia memutuskan untuk menyelidiki siapa sebenarnya tetangga barunya itu. Tapi Sidik bingung, apa yang harus ia lakukan?
Melihat kue bikinan ibunya yang diletakkan di meja, Sidik jadi punya ide. Ia berencana mengasihkan kue itu kepada tetangga barunya. Dengan begitu nanti Ia bisa punya alasan untuk mendatangi rumah si misterius itu. Dan Sidik pun langsung menemui ibunya untuk minta izin.
“Bu, boleh ndak, aku ngasih kue kepada tetangga baru?” tanya Sidik pada ibunya.
Mendengar itu, tentu ibunya agak heran kemudian berkata, “Buat apa kamu ngasih kue?”
“Gini Bu, kita kan belum kenalan sama tetangga baru itu. Gimana kalau kue itu sebagai tanda perkenalan dari keluarga kita!?” sambil menunjuk kue di atas meja.
“Baiklah kalau itu mau kamu, tapi kamu ngasihnya yang sopan ya!”
“Iya Bu.” ucap Sidik senang.
Lalu Sidik membungkus kue tadi dengan kantong plastik. Selanjutnya membawa bungkusan kue itu menuju ke rumah tetangga barunya.
Sampai di rumah yang dituju, Sidik mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tapi beberapa kali Sidik mengetuk dan mengucapkan salam, tidak ada jawaban.
 Sidik mencoba mendorong pintu itu. Setelah didorong, ternyata pintunya tidak dikunci dan langsung terbuka. Sidik mengucapkan salam lagi, tapi tidak ada jawaban lagi. Ia pun memutuskan untuk melangkah masuk.
Sidik mendengar ada seseorang sedang berbicara di ruang belakang. Kemudian ia melangkahkan kakinya mendekati sumber suara itu. Selanjutnya ia mengintip melalui sela-sela pintu yang sedikit terbuka.
Betapa kagetnya Sidik melihat orang yang diintipnya. Dia ternyata tidak berambut gondrong melainkan berkepala botak. Kemudian wajahnya bulat telur dan matanya sipit. Persis dengan wajah teroris yang ditayangkan pada berita televisi.
Rupanya saat itu si kepala botak sedang berbicara dengan seseorang melalui telpon genggam. Sidik pun mencoba mendengarkan pembicaraan itu.
“Iya, bomnya sudah siap, dan besok siang kita akan meledakkan tempat hiburan kafir itu.” Ucap si kepala botak.
Mendengar itu Sidik jadi gemetar. Kemudian ia mengurungkan niatnya untuk mengasihkan kue. Ia berjalan hati-hati ke luar rumah sebelum si penghuninya tahu akan kehadirannya. Sidik yakin bahwa tetangga barunya itu adalah seorang teroris yang menjadi buronan polisi.
Beberapa saat Sidik sudah berada kembali di dalam rumahnya. Kemudian Ia bercerita kepada ayahnya yang kebetulan sudah pulang dari kerja. Terus ia mengajak ayahnya menuju ke kantor polisi.
Di kantor polisi Sidik yang dibantu sang ayah telah menceritakan tentang tetangga barunya yang mencurigakan. Polisi pun percaya dan saat itu juga langsung menyiapkan operasi penggrebekkan.
Setelah digeledah, ternyata di rumah kontrakan itu ditemukan banyak bom rakitan beserta bahan-bahan pembuatnya. Ternyata tetangga baru Sidik itu benar-benar seorang teroris yang menjadi buronan polisi. Dia berencana melakukan pengeboman terhadap sebuah tempat hiburan di hari Minggu besok.
Polisi mengucapkan terimakasih kepada Sidik dan ayahnya atas informasi yang diberikan. Sidik pun dianggap sebagai pahlawan. Ia telah berhasil menggagalkan rencana pengeboman yang akan dilakukan teroris itu. Kemudian Sidik juga mendapatkan hadiah uang yang dijanjikan. (@yunisap, cerita anak)

0 Response to "Cerita Anak: Ternyata Seorang Teroris"

Post a Comment