Dongeng: Pesan si Angsa Tua


“Jangan sekali-kali mendekati danau itu!” Itulah pesan yang diucapkan para angsa tua kepada anak-anaknya. Begitu juga dengan Goso dan Gosi yang baru saja mendapat pesan yang sama dari induknya.
Memang, hanya beberapa ratus meter dari tempat para angsa tinggal, terdapat sebuah danau tua dan liar. Danau itu dikelilingi oleh pepohonan yang rindang. Rumput dan alang-alang pun tumbuh subur di tepian danau. Sekilas danau itu sudah tampak kalau tak pernah dikunjungi.
Dulu-dulunya danau itu merupakan sumber penghidupan bagi para angsa yang tinggal disekitarnya. Mereka mandi dan makan di sana. Tapi tiba-tiba datang sebuah petaka. Banyak angsa yang hilang di danau itu. Ternyata mereka menjadi santapan seekor pelus. Yaitu sejenis belut yang gedenya mencapai sebesar batang pohon kelapa. Entah pelus itu datangnya dari mana. Dan sejak itu tidak ada lagi angsa yang berani mendekati danau itu.
“Gimana kalau hari ini kita pergi ke danau tua itu, kayaknya di sana banyak makanan deh!” ajak Goso penuh semangat.
“Tapi kan kita dilarang mendekati tempat itu, gimana kalau kita ke tempat lain saja?” Gosi menyarankan.
“Ah, dasar penakut kau. Kalau kamu tidak mau, aku juga berani pergi sendiri.” Dengan perasaan kesal Goso langsung menuju ke danau tua itu. Gosi yang tidak tega akhirnya ikut juga. Dan sesampai di danau itu.
“Benarkan kataku, tuh lihat di sini banyak makanan favorit kita! Jadi kamu beruntung ikut denganku.” Dengan nada kemenangan Goso menunjuk ikan dan udang-udang yang tampak di pinggir danau.
“Iya sih, tapi kalau ada apa-apa gimana?” Gosi Ragu.
“Ah, nggak usah banyak pikiran! Mending kamu sekarang turun dan menangkap ikan-ikan itu.” Goso langsung mendorong saudaranya itu untuk terjun.
Gosi yang terpaksa akhirnya terjun ke danau. Dia mulai berusaha menangkap ikan dan udang-udang itu. Tapi tiba-tiba sebuah pusaran air muncul mendekati Gosi. Lama-kelamaan pusaran itu semakin besar hingga Gosi tersedot ke dalamnya.
Goso yang melihat kejadian itu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa memandang tubuh Gosi yang lenyap bersama dengan hilangnya pusaran itu. Dan air pun menjadi tenang seperti semula.
Goso baru sadar kalau akibat dari kecerobohannya telah membuat saudaranya celaka. Dan sekarang Gosi telah tiada.
Goso telah melanggar pesan kedua induknya. Dia sangat menyesali perbuatannya itu. Bahkan kemudian dia tidak berani pulang ke rumahnya. Dan dia baru pulang setelah dicari induknya.
Itulah akibatnya jika melanggar sebuah pesan dari para yang lebih tua. makanya kita semua jangan sekali-kali melanggar pesan dari para orang yang lebih tua. Apalagi pesan itu adalah pesan yang sangat baik bagi keselamatan kita. (Yunisa Priyono, Dongeng Sebelum Bobo, Kedaulatan Rakyat: 6 Agustus 2006)

2 Responses to "Dongeng: Pesan si Angsa Tua"