Mengharap Lahirnya Gajah Mada Baru (Resensi Buku)


Judul Buku : GAJAH MADA SANG PEMERSATU BANGSA: Gagasan tentang Amukti Palapa
Penulis  : Renny Masmada
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Cetakan : Pertama, Juni 2003
Tebal  : XXII + 125     
Sekarang, dongeng mengenai kebesaran Majapahit sebagai pemersatu bangsa, seluruh nusantara, yang dikenal hampir di seluruh manca negara pada zamannya tahun 1923 s.d 1478 seperti mengalami stagnasi. Tenggelam bersamaan dengan kemajuan peradaban fast food, telefon selular, dan kesibukan mengatur cash-flow yang mengacu pada pemenuhan target profit margin untuk melaksanakan seluruh proyeksi rentability ratio. Bahkan di perpustakaan dan toko-toko buku, “dongeng” mengenai kebesaran Majapahit ini semakin langka didapat.
Renny Masmada melalui buku ini memberikan informasinya tentang kebesaran Majapahit dan Gajah Mada berdasarkan data dan fakta. Buku ini sangat bermanfaat untuk dibaca oleh masyarakat luas demi menggairahkan semangat persatuan dan kesatuan yang akhir-akhir ini semakin pudar. Di samping itu juga memberikan pandangan, gagasan, dan pelajaran kepemimpinan yang sangat berharga.
Gajah mada adalah seorang pemimpin yang tidak ada bandingnya. Walaupun berasal dari rakyat biasa tapi pokok-pokok pikirannya, tindakan, dan kebijakannya melebihi siapapun, termasuk para bangsawan.Dia adalah orang pertama yang mempunyai gagasan “persatuan nusantara” dengan sumpahnya “sumpah amukti palapa”, yang berbunyi, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa. Lamun kalah Gurun, Ring Seram, Tanjungpura, Ring Haru, Pahang, Ring Dompo, Ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Isun Amukti Palapa.” Artinya; setelah tunduk nusantara, saya akan beristirahat, setelah tunduk Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Balo, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya beristirahat. (halaman 7).
Amukti Palapa telah menjadi holy spyrit tidak hanya bagi Gajah Mada, tetapi juga bagi seluruh rakyat di nusantara raya ini. Setelah pemerintahan di tangan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, kerajaan mengalami kemajuan yang sangat pesat di bidang sosial, ekonomi, politik, keamanan, kebudayaan, agama, dan pendidikan. Pada waktu itu, Majapahit mengalami zaman keemasan dan wilayahnya mencakup sebagian besar wilayah Indonesia, bahkan sampai luar negeri.
Fenomena yang menarik, yaitu ketika seorang Mahapatih Amangkubumi bernama Arya Tadah memohon agar jabatannya dicopot karena dia tidak sanggup lagi menjalankan tugasnya akibat sakit. Sementara, Gajah Mada dipromosikan untuk menggantikan Arya Tadah sebagai Maha Patih Amangkubumi malah minta ditangguhkan karena merasa masih belum mampu mengemban tugas itu. Sikap seperti ini sekarang sudah langka. Setiap orang berupaya saling menjatuhkan siapa saja untuk berebut kursi kepemimpinan, dan setelah menjadi pejabat lalai pada kepentingan negara. Malah, ada yang melakukan korupsi terhadap kekayaan negara. Kepentingan rakyat diabaikan. Tapi untuk mengantarkan obsesinya mendapatkan kedudukan, rakyat dijadikan aset, dijadikan kekuatan yang siap kapan saja dijual, digadaikan, dan kalau perlu dikorbankan.
Sekarang, bangsa Indonesia sedang mengalami keterpurukan di segala bidang. Sehingga, sejarah masa lalu bisa menjadi tolok ukur atau bahan perbandingan bangsa saat ini untuk memperbaiki dan terus melakukan intropeksi diri agar dapat memberdayakan seluruh potensi yang ada bagi kemajuan negara tercinta ini. Bangsa Indonesia rindu akan kebesaran, kesejahteraan, dan kemakmuran masa lalu. Serta, rindu akan kelahiran Gajah Mada Baru yang mampu memajukan Indonesia di segala bidang.
Semoga dalam pemilu 2004 nanti akan terpilih pemimpin yang jujur, yang mau mendengarkan aspirasi rakyatnya, yang mampu menyelesaikan tugas-tugas negara, yang mampu melepaskan negara ini dari krisis yang berkepanjangan. Serta, dapat menciptakan negara Indonesia yang dikagumi di dunia Internasional. (Yunisa Priyono, Kedaulatan Rakyat, 28 Maret 2004)

0 Response to "Mengharap Lahirnya Gajah Mada Baru (Resensi Buku)"

Post a Comment