Cerita Anak Ramadhan: Keluar Darah


          Faizah sekarang baru kelas empat SD, tapi dia sudah menjalankan Puasa sehari penuh seperti orang dewasa. Sebelumnya, Bu Siah melatih anaknya itu dengan puasa setengah hari, yaitu berbuka saat sebelum azan Luhur. Dan saat kelas tiga kemarin, Faizah sudah mencoba puasa sehari penuh selama beberapa hari.
          Tapi sampai sekarang sebenarnya dia masih belum tahu apa saja yang membatalkan puasa. Yang dia tahu tentang hal-hal yang membatalkan puasa hanyalah makan dan minum saja.
          Kebetulan pelajaran terakhir di hari Senin adalah Agama Islam. Pak Rohaji, memberikan materi tentang hal-hal yang membatalkan puasa. Dan para murid pun terlihat serius menyimak apa yang diterangkan gurunya.
          “Anak-anak...., hari ini bapak akan menjelaskan tentang hal-hal yang membatalkan puasa. Pertama, makan atau minum walaupun cuma sedikit. Kecuali kalau lupa, itu tidak batal. Yang kedua, muntah-muntah secara sengaja. Ketiga, keluar darah bagi wanita.” Kemudian Pak Roh diam sejenak.
          “Ada beberapa hal yang perlu dihindari di bulan puasa, antara lain mandi di dalam air seperti kolam renang. Mengapa....? Karena kadang secara tidak sengaja kita minum air itu atau kentut. Kan kalau kentut itu airnya masuk....! Nah, bisa batal deh puasanya. Apa ada yang mau bertanya?” Pak guru menawarkan.
          “Kalau nangis batal nggak?” tanya Iwan.
          “Kalau nangis itu tidak batal. Ada lagi?” Semua siswa diam. Sebenarnya faizah masih bingung dengan keluar darah, karena kemarin tangan ibunya juga keluar darah akibat terkena pisau dan saat itu, ia tetap berpuasa. Tapi Faizah pun enggan untuk bertanya. Dia bertekat sepulang sekolah nanti akan memberitahu ibunya saja.
          Kemudian Pak Rohaji menjelaskan hal-hal lain yang tidak boleh dilakukan dalam bulan puasa karena akan mengurangi pahala seperti marah, berkata jorok, berkelahi, dan membicarakan kejelekan orang lain. Setelah itu Pak Roh menutup pelajaran dengan berdoa.
          Sampai di rumah Faizah langsung menanyai ibunya yang sedang nyapu lantai. “Bu tadi kata pak guru kalau keluar darah itu puasanya batal, tapi kemarin ketika tangan ibu keluar darah kok tidak batal?”
          Ibunya tersenyum mendengar pertanyaan puterinya yang polos itu. Kemudian dia berhenti menyapu dan menjawab pertanyaan puterinya dengan lembut. “Begini nak, maksud pak guru itu bukan keluar darah akibat terluka seperti ibu kemarin.”
          “lantas apa?”
          “Yang di maksud pak guru itu adalah keluarnya darah menstruasi atau haid. Darah itu keluar rutin tiap bulan sehingga juga disebut datang bulan. Dan pada masa itu tidak boleh berpuasa karena kalau puasa malah dosa. Tapi itu hanya dialami oleh wanita yang sudah baliq.” Bu Siah menjelaskan sampai puterinya benar-benar jelas.
          “O....” Faizah manggut-manggut mendengarkan perkataan ibunya. (yunisa, cerita anak ramadhan)

0 Response to "Cerita Anak Ramadhan: Keluar Darah"

Post a Comment