Cerpen: Bulan Putih Tak Bercahaya


Malam benar-benar gelap. Langit tampak hitam pekat. Bulan putih tak bercahaya. Hanya ada setitik bintang yang berkedip. Orang tak tahu lagi apakah bulan putih itu benar-benar bulan atau hanya gambar, karena mirip sekali dengan lukisan bulan sabit putih kecil di atas kertas hitam yang luas. Juga setitik kedipan itu apa benar-benar bintang, karena setelah benar-benar dipandang mulai meragukan. Padahal itu adalah malam Bulan Romadhon. Bulan yang sangat dimuliakan. Bulan yang penuh barokah. Bulan yang suci dan baik untuk mensucikan diri.
Tapi apa malam Bulan Romadhon ini benar-benar gelap? Apa bulan putih benar-benar tak bercahaya? Apa bintang-gemintang telah menghilang dan tinggal setitik saja? Apa bukan orang-orang yang buta, sehingga melihat dunia ini menjadi gelap dan ikut mengalir dalam kegelapan?
Saat  anak-anak bertanya, “Mengapa malam begitu gelap ? Mengapa bulan putih itu tak bercahaya? Mengapa bintang-bintang menghilang?” Tak ada yang menjawab. Entah bisu, entah tuli, semua diam.
 Mungkin zaman ini kembali seperti jutaan tahun yang lalu, dimana zaman masih benar-benar gelap, tanpa cahaya, cahaya apa saja. Tapi sekarang ini kan zaman modern dan lampu penerang mudah didapat. Apa jangan-jangan orang tak butuh lagi penerangan, dan membiarkan dunia ini gelap?
*****
Kumbo melajukan motornya dengan santai. Tak peduli pada malam yang gelap. Tak peduli pada bulan putih yang tak bercahaya. Tak peduli pada bintang yang tinggal setitik. Meskipun cahaya lampunya tak mampu menembus gelapnya malam, dia tetap dapat meniti jalan. Dia sudah menyatu dengan gelap.
Setelah berjuang dan memakan waktu panjang, Kumbo sampai juga di warung remang-remang yang menjual keperluan sahwat. Di sana lelaki bebas jajan, menikmati tubuh-tubuh pasrah yang murah-meriah. Lalu setelah puas bisa meninggalkannya begitu saja, tanpa beban, tanpa pikiran.
Dan malam itu, warung remang-remang tampak terang walaupun langit masih gelap dengan bulan putih tak bercahaya. Seorang wanita berpakaian minim menyambut Kumbo dengan manja. Menuntunnya masuk ke dalam bilik sempit berbau amis. Selanjutnya, peluk, cium, cumbu, dan rayu menjadi bumbu, sedang baju dan celana disia-sia meninggalkan tempatnya. Desah terlarang pun menggema, larut dalam malam, serta lupa akan bulan putih.
*****
Malam benar-benar gelap. Langit tampak hitam pekat. Bulan putih tak bercahaya. Hanya ada setitik bintang yang berkedip. Bulan Romadhon ini sungguh gelap.  Masjid-masjid tampak sepi karena tinggal beberapa gelintir kepala yang bersujud. Orang-orang yang lain pada kemana? Apa mereka takut gelap, atau malah ikut-ikutan menjadi gelap? Takut pada setan juga sudah tak bisa dijadikan alasan. Karena semua setan sudah diikat erat-erat. Apa mereka lupa bahwa di Bulan Puasa itu setan-setan telah diikat?
Mungkin setan-setan sekarang tidak diikat, sudah bebas. Mereka keluyuran. Membuat malam-malam di Bulan Romadhon menjadi gelap, lebih gelap dari malam biasanya. Lalu memadamkan cahaya dari bulan putih. Juga menelan bintang-bintang hingga tinggal setitik. Memang sudah tugas setan untuk membuat dunia ini gelap. Tampaknya mereka juga berhasil membuat setan-setan baru yang juga bisa membuat gelap dan suka akan kegelapan. Bahkan tak hanya malam, siang pun bisa diubahnya menjadi gelap.
Malam pun semakin larut. Terdengar sayup-sayup  orang baca Al Qur’an. Setan-setan tak tahan mendengar lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an. Mereka akan terbakar dan lenyap. Tapi mengapa orang yang mau melafalkan ayat-ayat  Al Qur’an menjadi langka? Ketika orang-orang diajak membaca Al Qur’an, selalu ada saja alasan untuk menolak, “Aku ngantuk! Aku besok harus bekerja! Aku lagi malas! Aku tak bisa baca Al Qur’an! Aku..........”
*****
Malam benar-benar gelap. Langit begitu hitam pekat. Bulan putih tak bercahaya. Hanya ada setitik bintang yang berkedip. Sekarang adalah malam tanggal lima belas Romadhon, di mana bulan akan bulat sempurna dan cahayanya amat terang. Kalau sudah begitu lampu di jalan-jalan tak perlu dinyalakan, dan dari jauh pun orang sudah terlihat. Suara-suara lantunan ayat Al Qur’an akan menggema di mana-mana. Tapi sekarang, bulan bulat sempurna tetap putih tanpa cahaya. Hingga malam tetap gelap, dan sunyi-senyap.
Kumbo tampak melajukan motornya. Dia tak peduli akan kegelapan, karena kegelapan sudah menjadi bagian darinya. Dia sudah tak butuh bulan putih yang bercahaya, atau lampu motornya atau matanya, karena dengan mata tertutup pun dia pasti sampai di warung remang-remang. Bahkan lebih cepat karena terbiasa.
“Ada yang baru Bang!” Sambut mami warung itu.
“Boleh, aku mau mencobanya!”
“Silakan bang!” Mami itu mengantar Kumbo ke sebuah bilik yang paling ujung.
Seorang gadis dengan tubuh idaman dan wajah manis di bawah terpaan cahaya lampu buram, telah menunggu di dalam bilik. Dari wajah dan tingkahnya tersirat kalau gadis itu masih polos. Saat Kumbo memasuki biliknya, ia cuma beku. Biasanya wanita lain akan langsung menyambut Kumbo dengan mesra.
Benar-benar cantik gadis ini, kok mau-maunya menjadi pelacur, batin Kumbo. Dia kemudian mendekati dan mengintrogasi ala polisi.
“Sejak kapan Neng di sini?” dengan nada yang dilembut-lembutkan.
Gadis itu mulai menunduk dan suara seraknya terdengar, “Baru semalam Bang....!”
“Mengapa Neng bisa ada di sini?”
“Keadaanlah yang membuat saya di sini. Aku dijual oleh Bapak tiri saya, setelah melayaninya beberapa kali sampai.....” gadis itu ragu-ragu.
“Sampai apa?” desak Kumbo.
“Aku hamil......!”
Kumbo tersentak kaget. Dia bukan kaget pada keadaan calon mangsanya yang hamil. Dia kaget ternyata masih ada Bapak yang tega memangsa anaknya. Dia jadi berfikir, ternyata masih ada yang lebih bejat darinya. Seharusnya seorang bapak, meskipun bapak tiri tugasnya adalah melindungi kehormatan anak-anaknya dengan sekuat tenaga, kalau perlu nyawa, bukan malah merusaknya.
Kumbo pun jadi ingat akan putri semata wayangnya yang memilih ikut istrinya yang telah dicerai. Kira-kira sekarang sudah seumuran dengan gadis di dekatnya itu. Kumbo khawatir, jika putrinya bernasib malang seperti gadis itu. Tapi dia segera menepis kekhawatirannya, karena yakin mantan istrinya yang berjilbab itu pasti akan menjaga putrinya dengan baik.
Kini Kumbo kembali ingat akan tujuannya. Dia langsung mendekap tubuh gadis di sampingnya. Mulai menjelajah menuju puncak surga yang sudah dikenalnya. Melupakan segala beban hidup. Melupakan malam yang telah menjadi gelap. melupakan bulan putih. Melupakan bintang-gemintang yang entah hilang kemana. Melebur ke dalam lautan gelap memecah sunyi.
Kumbo merasa telah menemukan puncak surga yang belum pernah diraihnya. Puncak surga yang begitu tinggi, lebih tinggi dari biasa. Sampai-sampai dia tak rela mengakhiri penjelajahan, hingga mengulanginya beberapa kali tanpa menghiraukan kekuatan diri. Dan malam itu sungguh benar-benar gelap.
*****
Malam benar-benar gelap. Langit tampak semakin pekat. Bulan putih tak bercahaya lenyap. Pun setitik bintang yang berkedip, hilang entah ke mana. Seluruh media baik elektronik maupun cetak telah menyebarkan sebuah berita. Sungguh berita yang membuat gempar, mengejutkan, dan tak disangka-sangka. Mulut-mulut pun juga ikut merayakan topik yang sama. Seorang yang dikenal sebagai kyai ternama, mati di tempat pelacuran, dalam dekapan putri kandungnya. (yunisa, cerpen)
*****

0 Response to "Cerpen: Bulan Putih Tak Bercahaya"

Post a Comment