Cerita Anak: Berjuang Untuk Ibu


Malam itu hujan turun agak deras. Udara dingin pun langsung terasa di dalam rumah. Penghuni kampung itu nampak tak ada yang berani keluar. Mereka memilih berada di dalam rumah dan menikmati tidur yang nyenyak.
Tetapi malam itu Bu Wiji tidak bisa tidur. Hujan di malam itu membuat Bu Wiji gelisah dan menderita. Apalagi udara dingin yang semakin terasa dan membuat tubuh menggigil.
Saat itu ia duduk di atas bale-bale tempat tidurnya. Matanya tertuju kepada Nisa, anak semata wayang yang sedang tidur lelap di atas kasur yang berada dekat dengan tempat tidur Bu Wiji.
Nisa nampak sangat lelah. Suara dengkurnya nyaring. Memang tadi siang ia habis bersih-bersih rumah.
“Ah, mengapa ayah belum pulang juga? Perutku sudah sakit sekali, mungkin aku mau melahirkan,” gumam Bu Wiji. Ia menantikan suaminya pulang. Ia sedang hamil tua.
Ia tahu, Bu Bidan Asti sangat baik hati dan suka menolong. Tetapi rumahnya agak jauh dan malam masih diliputi hujan. Siapakah yang harus memanggilnya?
Bu Wiji menoleh ke arah tubuh Nisa, anak perempuan yang berumur 11 tahun. Perlahan Bu Wiji bangkit dan mendekati tubuh Nisa.
Sementara itu hujan masih terus turun. Sesekali terdengar suara kilat yang menyambar. Dengan pelan Bu wiji membelai kepala Nisa. Sebenarnya ia tak sampai hati untuk membangunkannya.
“Nis, Nisa, bangun sebentar nak...” suara Bu Wiji setengah berbisik.
Lalu Nisa pun membuka matanya dan segera bangun. Ia terkejut melihat ibunya duduk di sebelahnya.
“Bu, ada apa bu?” ucap Nisa sambil memegang kedua tangan ibunya.
“Nis, beranikah kamu memanggil Bu Bidan Asti sekarang? Perut ibu terasa sakit, kayaknya mau melahirkan!” seru Bu Wiji.
“BaikBu aku akan panggilkan sekarang.”
“Tapi kamu berani...? Malam hujan begini...?”
“Berani bu, aku akan pakai jas hujan.”
“Kalau begitu kamu hati-hati ya, bawa ibu bidan ke sini!”
“Baik Bu.”
Rasa kantuk dan lelah Nisa segera ilang. Ia menyatukan segenap pikirannya untuk menolong ibunya yang sedang menderita.
Karena rumah Bu Bidan Asti agak jauh, maka Nisa pergi dengan memakai sepedanya. Ia segera menembus kegelapan malam yang disertai hujan deras dengan tubuh terbungkus jas hujan.
Sementara itu hujan semakin deras. Jalan menuju rumah bu Asti juga gelap. Tetapi Nisa tidak merasa gentar dan takut. Segera ia mempercepat laju sepedanya ke rumah Bu Bidan. Dan sepuluh menit kemudian ia sampai di rumah Bu Asti.
Nisa segera memencet bel yang ada di depan pintu. Bu bidan Asti yang terbiasa dengan adanya tamu di malam hari langsung membukakan pintu.
“Oh Nisa. Ada apa malam-malam?” tanya Bu Bidan Asti. Ia sangat terkejut melihat Nisa berdiri di ambang pintu.
“Bu Bidan, tolong ibu saya. Ia mau melahirkan. Bapak saya masih belum pulang dari kota,” kata Nisa agak menggigil.
“Oh, baik kalau begitu ibu menyiapkan peralatannya dulu, kamu tunggu sebentar ya!” seru Bu Bidan.
Setelah siap lalu Bu Bidan pun pergi dengan naik sepeda motornya. Nisa pun diboncengkan di Jok belakang. Dan sepedanya dititipkan dulu di rumah Bu Bidan Asti. Bu Bidan Asti memang baik hati dan penuh rasa tanggung jawab.
Malam itu Bu Wiji melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Bu Wiji merasa bahagia. Begitu juga Nisa, ia sangat senang mempunyai seorang adik laki-laki. (@yunisap, cerita anak)

0 Response to "Cerita Anak: Berjuang Untuk Ibu"

Post a Comment