Cernak: Anak Yatim


Waktu menunjukan pukul 06.30 menit, Ari pun mulai  berpamitan pada ibunya untuk berangkat ke sekolah. “Ibu, Ari berangkat dulu ya! Asalamualaikum,” setelah mencium tangan ibunya, Ari bergegas meninggalkan halaman rumah dengan sepeda kesayangannya. 
Ari adalah anak yatim. Ayahnya meninggal waktu Ari masih berumur satu tahun. Jadi Ari hanya dibesarkan oleh ibunya yang bekerja sebagai guru SMP. Tapi walaupun hanya dibesarkan oleh ibunya, Ari sekarang menjadi anak yang soleh dan juga pandai. Dia selalu mendapat peringkat satu di kelasnya. 
Karena antara rumah dan sekolahnya hanya berjarak satu kilometer maka dalam waktu sepuluh menit Ari sudah sampai disekolahnya. Sebuah sedan berwarna merah  menyalip dan berhenti didepan sekolah. Ari hafal betul dengan mobil itu, karena  itu pasti mengantar Andi.
Andi adalah teman sekelas Ari. tapi kelihatannya dia sangat membenci Ari. Entah apa sebabnya dia selalu membuat masalah dengan Ari. orang tuanya sebagai pengusaha batik di kota. Sebagai anak tunggal Andi sangatlah dimanja. Akibatnya Andi menjadi anak yang bandel dan selalu tergantung pada orang tua.
“Selamat pagi anak yatim.”  Seperti biasa Andi selalu mengolok-olok Ari, tapi Ari tetap tabah dan tak menghiraukannya.  
“Teng…teng…,” lonceng berbunyi dua kali tanda masuk. Semua siswa buru-buru masuk kedalam kelas. Begitu juga dengan Andi dan Ari. Semua siswa telah siap untuk mengikuti pelajaran.
“Selamat pagi anak-anak!” Sapa Bu Siska
“Selamat pagi bu guru”. Tanpa dikomandoi anak-anak pun menjawab serentak.  Kali ini Bu Siska mengumumkan hasil ulangan matematika.  Seperti biasanya Ari selalu mendapat nilai tertinggi. Andi yang selalu kalah dengan Ari memandang dengan sinisnya.
“Teng…teng…teng….,” lonceng berbunyi tiga kali tanda istirahat. Satu persatu siswa mulai keluar dari dalam kelas. Umumnya mereka langsung menyerbu kantin sekolah untuk jajan. Tapi Ari sering memilih berada di dalam kelas. Dia mempelajari kembali materi yang baru saja diberikan.
Andi bersama teman-temannya menghampiri Ari. Dan Andi pun mulai menggoda, “ Ih, gayanya belajar tapi sebenarnya tak punya uang kan? Nggak dikasih ya sama bapak.”
“Dia kan tidak punya bapak !” usul Tomi teman dekat Andi.
“Oh iya saya lupa, dia kan anak yatim.”
“Hahahaha…” Andi dan teman-temannya terbahak. Mereka puas dan meninggalkan Ari.
 Hari Senin telah tiba, seluruh siswa siap mengikuti upacara bendera. Sebelum upacara dibubarkan, kepala sekolah mengumumkan berita duka bahwa pada hari minggu kemarin Andi dan ayahnya mengalami kecelakaan saat pulang dari kebun binatang. Ayah Andi telah meninggal sedang Andi dirawat di rumah sakit. Setelah istirahat pertama semua siswa kelas lima akan diajak menjenguk Andi.
Didampingi kepala sekolah, para siswa kelas lima berangkat ke rumah sakit. Setelah sampai di ruang tempat Andi dirawat, rombongan kepala sekolah dipersilahkan oleh Ibu Andi.
”Hai Andi semoga cepat sembuh ya!” ucapan bapak kepala sekolah yang diikuti para siswa. Andi tersenyum. Dia terlihat sangat pucat. Kepalanya dibalut kain perban.
“Ari,” dengan nada pelan Andi memanggil. Setelah Ari mendekat di pembaringan, Andi terus memegang tangan Ari dan berkata, ”Ri aku minta maaf ya, selama ini aku mengatain kamu anak yatim dan ternyata sekarang aku sendiri juga yatim.”
“Ya aku sudah  maafin kamu kok. Kamu yang tabah ya! Aku akan selalu mendoakan kamu agar lekas sembuh,” bisik Ari. Kemudian Andi beranjak memeluk Ari yang berada di dekatnya. Dan air mata pun tak terbendung menggenangi mata kedua anak yatim itu. ( Yunisa Priyono, Cernak, Kedaulatan Rakyat: 7 Januari 2007)

0 Response to "Cernak: Anak Yatim"

Post a Comment